Bonus demografi merupakan peluang yang harus dimanfaatkan demi kemajuan ekonomi dalam suatu Negara. Banyaknya usia produktif penduduk dalam siklus se-abad benar-benar harus dimanfaatkan agar tidak menjadi anti bonus demografi. Dalam bidang ekonomi tentunya bonus demografi menjadi sebuah keuntungan karena semakin besar jumlah tabungan penduduk produktif. Inilah yang memacu investasi dan pertumbuhan ekonomi suatu Negara. Oleh karena itu, sudah seharusnya pemimpin-pemimpin mampu melihat peluang bonus demografi sebagai jendela untuk memajukan kondisi ekonomi suatu bangsa kearah pertumbuhan ekonomi yang luar biasa.
Saat ini, Negara Indonesia berada dalam masa transisi menjemput bonus demografi dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2016 mencapai 5,02% (http://databoks.co.id/). Di tahun 2018 Presiden Joko Widodo menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam angka (5,4-6,1)% (http://databoks.co.id/). Karena itu, Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) harus disusun dengan realitistis dan kredibel (http://databoks.co.id/). Selain itu, lembaga PricewaterhouseCoopers (PWC) memprediksi Negara Indonesia di tahun 2030 akan memiliki pertumbuhan ekonomi mencapai peringkat 5 dunia. Sementara dalam sebuah laporan berjudul The Long View How will the global economic order change by 2050 yang dirilis pada Februari 2017 memprediksi perekonomian Indonesia tahun 2030 mencapai US$ 5,42 triliun atau sekitar Rp 72,14 kuantiliun (juta triliun) pada 2030 (http://databoks.co.id/). Oleh karena itu, persiapan generasi usia produktif sangat diperlukan sehingga menjadi anugerah bagi bangsa Indonesia.
Untuk menghadapi bonus demografi, kualitas penduduk merupakan syarat utama dalam pertumbuhan ekonomi. Karena itu, sangat diperlukan persiapan generasi emas sejak dini guna menyongsong bonus demografi Indonesia. Persoalan pendidikan merupakan hal penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah, sehingga mampu menghasilkan output yang bukan saja berkualitas dalam pengetahuan tetapi dalam beretika. Namun realitanya ada ribuan bahkan jutaan anak belum mengenyam pendidikan yang berkualitas. Tidak mengherankan bila data statistic menujukkan bahwa untuk wilayah Jakarta saja pada tahun 2015 kasus narkoba berjumlah 23 ribu orang (http://databoks.co.id/). Sementara Komnas Perempuan mencatat sebanyak 2.734 kasus kekerasan dalam pacaran (KDP) atau dating violence terjadi pada tahun 2016 (http://databoks.co.id/). Tentunya ini menjadi tantangan pemerintah ke depannya melalui revolusi mental yang diterapkan dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi dalam capaian kompetensi pembelajaran yang berkarakter. Sesuai dengan apa yang sampaikan oleh Sugiharto dan Setiawan (2015) bahwa pembangunan manusia bukanlah sekedar pertumbuhan ekonomi saja melainkan lebih dari peningkatan pendapatan dan lebih dari sekedar proses produksi dan komoditas maupun akumulasi modal. Hal ini menjadi penting, sebab realita pertumbuhan ekonomi tidak serta merta mampu memberi solusi terhadap kesejahteraan.
Masalah lain yang tentunya juga menghambat pertumbuhan ekonomi menyongsong bonus demografi yaitu, tingkat partisipasi angkatan kerja baik di perkotaan maupun di pedesaan. Data statistic menjukkan bahwa per Agustus 2016 tenaga kerja yang banyak terserap adalah penduduk dengan pendidikan sekolah dasar sebanyak 49,97 juta orang (42,20 persen) dan sekolah menengah pertama sebanyak 21,36 juta orang (18,04 persen) (http://databoks.co.id/). Padahal sangat diperlukan angkatan kerja yang memiliki kompetensi sehingga mampu bersaing dengan Negara-negara lain di era globalisasi ini
Dari ulasan ini, saya berkesimpulan bahwa persoalan mendasar bangsa Indonesia dalam menyongsong bonus demografi terletak pada pengembangan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan. Baik itu pendidikan yang mengarah kepada pengetahuan maupun pendidikan yang mengutamakan akhlak seseorang sehingga tercipta generasi Indonesia yang berkualitas. Tentunya untuk merealisasikan generasi emas Indonesia dalam menyongsong bonus demografi bukanlah semata-mata menjadi tanggung jawab pemeritah Indonesia tetapi partisipasi aktif masyarakat Indonesia turut menentukan terciptanya bonus demografi yang menguntungkan dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar